Kebetulan selama enam tahun terakhir saya beberapa kali melakukan presentasi tentang “Kei Pi Ai” (KPI). Tiba tiba menjelang pergantian tahun dari tahun 2016 ke tahun 2017, seorang teman muda  bertanya, apakah KPI bisa digunakan juga untuk mengelola kinerja pribadi termasuk menetapkan sasaran yang ingin dicapai? Maksudnya sasaran pribadi yang tidak terkait dengan pekerjaan atau jabatan yang diemban. Jawaban saya untuknya sangat tegas yaitu: “Tentu saja sangat bisa, mengapa tidak?”

Penggunaan KPI untuk pribadi memang belum jadi kebiasaan. Mayoritas orang menyimpan tujuan dan rencana pribadi dalam pikiran masing masing saja. Untuk menjelaskannya secara mudah, saya akan menggunakan diri sendiri sebagai contoh. Untuk diri pribadi saya lebih suka menggunakan konsep “MBO”  (Management Berdasarkan Sasaran) karena lebih fleksibel, bukan “BSC” (Balance Score Card). Karena menggunakan MBO, maka pertama-tama saya harus tetapkan beberapa bidang kinerja (Key Result Areas/KRA) yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya. Saya menetapkan bobot yang merefleksikan derajat pentingnya capaian atau keberhasilan dalam KRA tersebut bagi saya. Setelah itu untuk tiap KRA saya tetapkan KPI-nya sekaligus target untuk tiap KPI yang saya ingin capai pada tahun 2017.

KRA, KPI, Target (dalam kurung) yang akan saya gunakan untuk mengevaluasi kinerja diri pada akhir tahun 2017 adalah dibawah ini:

KRA no. I dan bobotnya – Kondisi Kesehatan (35%).

KPI dan Targetnya:

  1. Berat badan – 70 kg
  2. Hasil testlLab – Sesuai target
  3. Tekanan darah – Sesuai target

KRA no. II dan bobotnya – Sosial & Spiritual ( 25%).

KPI dan targetnya:

  1. Jumlah kontak (Naik 100%)
  2. Kewajiban sosial (Dipenuhi 100%)
  3. Silaturahmi keluarga (naik 25%)
  4. Kewajiban agama (Dijalankan  100%)

KRA No. III dan bobotnya – Kemampuan Mental (20%).

Baca juga:  Menyiapkan Diri Menjadi Tenaga Profesional Sektor Bisnis dan Industri untuk Menghadapi Tantangan Era Globalisasi

KPI dan Targetnya:

  1. Tulisan di Web 44 buah
  2. Membaca buku 1 buah
  3. Menulis buku 2 buah

KRA no. IV dan bobotnya – Finansial (20% ).

KPI dan Targetnya:

  1. Saldo tabungan – Pas
  2. Kewajiban – Dipenuhi 100%.
  3. Hutang – Nihil

Catatan:

Bagi mereka yang masih punya anak-anak yang masih menjadi tanggungan harus ada satu Key Result Area lagi “Pengembangan Anak” lengkap dengan KPI dan target-targetnya.

Bagaimana menetapkan “bobot” untuk tiap KRA?

Perlu saya jelaskan bahwa bobot untuk KRA atau kalau dalam BSC disebut “perspective” (aspek) bisa sama besarnya. Jadi kalau ada 5 KRA masing masing dapat 20%. Tetapi alokasinya lebih sering berbeda. Jangankan untuk pribadi, untuk organisasi pun bisa tidak sama. Bobot (score) mencerminkan besarnya perhatian, energi dan dana yang harus dialokasikan ke bidang itu. Tiap tahun bobot bisa berubah tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Sebagai contoh, karena saya termasuk generasi “Baby Boomers” yang berusia diatas 70 tahun dengan kondisi fisik yang sudah tidak 100% bugar maka bagi saya KRA Pemeliharaan Fisik mendapat bobot terbesar. Itu untuk menunjukan bahwa tahun ini (dan tahun-tahun yang akan datang) perhatian dan upaya saya untuk kesehatan akan tetap besar!

Justru dibagian inilah kita sebagai pribadi atau sebagai pimpinan organisasi dituntut untuk mampu membagi fokus perhatian dengan bobot yang tepat.

Apa langkah selanjutnya?

Langkah selanjutnya yang seharusnya dibuat pada saat yang bersamaan dengan penetapan sasaran kerja adalah membuat Rencana Tindakan (Action Plan) untuk mencapai tiap sasaran. Rencana Tindakan tersebut menjelaskan apa yang harus dikerjakan/dilakukan, mengapa harus dilakukan, siapa yang akan  melakukan, dimana dilakukan, dan bagaimana melakukannya.

Target untuk Saldo Tabungan di Bank dibawah KRA Finansial hanya saya tulis “Pas”. Ada yang bertanya,  kok tidak disebut jumlahnya? Jawaban saya: Karena itu rahasia pribadi. Kalau disebutkan itu namanya “sok” (riya), Yang penting kan “pas” yaitu  “pas mau beli hp baru bisa”, “pas mau jalan2 ke luar negeri juga lagi bisa”. Hahahahaha.

Baca juga:  Integritas Vs. Hipokritas

Mudah mudahan memperkaya wawasan kita.

Tambahan artikel pendukung: https://hbr.org/2016/12/stop-setting-goals-you-dont-actually-care-about

Salam

Jakarta, Januari 2017