Beberapa tahun lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan okeh sebuah universiyas swasta di Bogor saya berkenalan dengan salah seorang pembicara, seorang konsultan komunikasi. Ia jauh lebih muda dari saya tapi saya cukup terkesan dengannya. Ia sangat “pede” dengan keahliannya dan adalah seorang pembicara yang piawai. Bila ia dites memakai instrumen D.I.S.C saya yakin ia termasuk dalam kelompok orang berkepribadian “I”.

Karena saat itu yang populer adalah masih BlackBerry Messenger, setiap hari ia mengirimi pesan BBM kepada semua kontaknya. Isinya selalu berita seputar dirinya. Misanya bahwa ia baru saja memberi pelatihan di beberapa satuan wilayah Polri, satuan elite TNI, dan beberapa perusahaan. Tentu saja segala pujian dan komentar positif untuknya yang terkait dengan hasil kerjanya atau semacam testimoni selalu ikut disebarkan. Sangat keras sekali usahanya untuk membangun “personal brand”. Saya masih bisa memakluminya karena ia punya kepentingan untuk memasarkan dirinya secara agresif.

Tetapi kemudian saya mulai termenung oleh kesukaannya memuat pujian2 untuk dirinya tentang hal/perbuatan yang tidak ada kaitan dengan pekerjaan/profesinya. Misalnya, suatu saat ia berceloteh bawa saat mendapat “job” didaerah asalnya, ia menyempatkan diri pulang ke kampung untuk berziarah ke makam orang tuanya. Kemudian dicantumkannya pujian dari seseorang kepadanya bahwa ia sungguh seorang anak yang sangat berbakti kepafa orang tua. Ada pula sejumlah pujian untuk kegiatannya yang lain. Kebiasaannya itu mengingatkan saya pada para anak anak muda yang digelari selebriti yang sangat senang bila menjadi menjadi bahan berita saat melakukan kegiatan sosial.

Seorang sahabat berkata bahwa orang orang seperti itu menderita penyakit yang disebut “waham kebesaran” (WK). Menurut Prof Aminudin yang ahli bahasa dari UPI Bdg (saat ini Atase Pendidikan di Ingeris) “waham” dapat diartikan sebagai sangkaan atau pemikiran yang tidak didasarkan pada nalar yang benar. Jadi, arti dari “waham kebesaran” (WK) adalah kira2 “merasa diri besar”. Mengapa “WK” dianggap sebagai “penyakit” kejiwaan? Karena semua yang mereka (dan mungkin kita juga) lakukan dan mungkin dipuji orang (umumnya basa basi) adalah hal hal yang memang wajib dilakukan dan belum bisa disebut sebagai sesuatu yang istimewa apalagi disebut mukjizat.

Baca juga:  Belajar Bekerja Secara Kompak Sebagai Anggota Sebuah Tim Kerja

Kita boleh berkata bahwa kita berbuat semua itu “tanpa pamrih” tapi kriteria tanpa pamrih adalah tidak mempublikan kegiatan tersebut (“riya”). Ingatlah selalu: “Apa yang diberikan tangan kananmu, janganlah diketahui oleh tangan kirimu”. Semoga kita semua dijauhkan dari penyakit “WK”.

Amin!

Selamat Berakhir Pekan