Pada tanggal 19 Januari 2017 lalu saya menerima kiriman pesan via “Telegram” dari Denny JD yang mengurusi Blog saya, berbunyi sebagai berikut.

“Selamat pagi Pak Ruky.

Saya dapat artikel di bawah ini dari Stanley:

“Designer juga menulis” (https://medium.com/desk-of-van-schneider/should-you-write-as-a-designer-29c69deeee19#.z5jrfd4u8)

https://cdn-images-1.medium.com/max/2000/1*p2bcMTkqrLb9qPMjv6xF5g.jpeg

Saya pikir bisa jadi inspirasi buat Pak Ruky untuk bikin tulisan “Mengapa saya menulis?” ???

Pasti keren”.

Saya tergelitik untuk membaca artikel tersebut dan terus terang, saya sangat terkejut. Apa yang ditulis oleh designer bernama Tobias itu tentang “mengapa ia menulis”, adalah persis seperti yang selama ini saya pikirkan dan sering ucapkan.  Tetapi dalam kasus saya, memang ada satu tambahan alasan lagi yang lebih cocok untuk saya pribadi.

Inilah tiga alasan mengapai sdr Tobias dan saya (memaksa diri) menulis berdasarkan apa yang ditulis oleh Tobias Van Schneider itu.

1. UNTUK KEPUASAN DIRI SENDIRI

Yang saya maksud bukanlah tentang penulisan artikel yang untuk diterbitkan di majalah atau surat kabar. Juga bukan membuat tulisan ilmiah atau makalah untuk dipaparkan di depan ilmuwan atau peserta seminar. Yang saya maksudkan adalah tentang “menulis bebas”, yaitu  sesuatu hanya dengan tujuan menuliskannya. Kegiatan itu  ternyata punya dampak “therapis” atau “penenangan” pada jiwa. Menulis “bebas” adalah salah satu cara untuk mengeluarkan apa yang ada di pikiran dan di hati kita. Tidak ada aturan tentang format atau struktur yang harus diikuti. Bisa kita lakukan pakai ballpoint di buku catatan harian, pakai komputer laptop atau malah pakai tablet dan smartphone.

Topik yang akan kita tulis pun bebas. Kita bisa menulis tentang apa saja. Tentang makanan yang kita makan untuk sarapan atau makan siang, yang terjadi pada kita hari itu, yang kita lihat dan saksikan saat berada di luar rumah, yang kita baca di media cetak atau di televisi.

Baca juga:  Passion

Tindakan atau kebiasaan menulis itu meringankan beban pikiran dan tekanan dan membantu saya untuk siap menghadapi persoalan yang lebih besar.

2. MENULIS MEMAKSA SAYA BELAJAR LAGI

Walaupun kegiatan menulis itu saya sebut menulis bebas, tetapi begitu saya putuskan untuk menyebarkannya kepada semua teman, kenalan dan “contacts” yang ada dalam “hp” dan di “mailing list” saya, maka saya harus berusaha untuk menulis sesuatu yang akurat dan bisa dipertanggung jawabkan. Bila saya menulis secara “asal asalan”, apalagi bila bersifat ulasan tentang sesuatu yang juga bisa dicoba dilakukan  oleh mereka yang membacanya, saya harus memastikan bahwa apa yang saya tulis itu berdasarkan data atau rujukan yang bisa dipertanggung jawabkan. Saya punya reputasi yang harus dijaga. Sehubungan dengan itu, maka tanpa sadar,  secara otomatis saya selalu melakukan riset sederhana baik dari buku-buku yang saya miliki atau dari rujukan lain melalui cara “googling”.

3. MENULIS MEMAKSA SAYA BERPIKIR DAN  BERKOMUNIKASI SECARA  LEBIH JELAS (CLEAR).

Berbeda dengan komunikasi lisan yang cepat hilang “ditelan” udara, pesan yang disampaikan secara tertulis akan memberi kesempatan yang cukup bagi penerimanya untuk memahami dan juga menilainya. Pesanpun bisa disimpan lama, bisa tahunan.

Dengan demikian maka cara menulisnya pun bisa dan harus dipikirkan dengan baik. Selain tentang isinya juga kata-kata dan gaya bahasa yang digunakan.

Menulis pada prinsipnya sama dengan membuat “design” (rancangan). Dimulai dengan berpikir, membuat persiapan dan melakukannya. Tentang bagaimana teknik menulis sebuah artikel, dari mulai tahap mempersiapkan sampai membuatnya silahkan baca kembali tulisan saya berjudul “ANDA INGIN MENULIS?” Tulisan saya yang itu justru menjekaskan tentang teknik menulis tetapi tidak menjelaskan “mengapa” saya menulis.

Baca juga:  "Kleren Maken De Mens"

4. BERBAGI.

Alasan yang nomor 4 ini tidak disebutkan oleh Tobias karena alasan ini memang hanya berlaku khusus untuk saya. Saya merasa bahwa apa yang telah saya alami, saya pelajari dengan berbagai cara, di bangku kuliah, dari buku, pelatihan, pendidikan tambahan dan dengan menerapkannya dalam pekerjaan-pekerjaan yang saya pernah lakukan selama 50 tahun terakhir akan juga  bermanfaat bagi orang lain bila saya sebar luaskan. Sebagian memang telah saya tulis sebagai buku dan telah diterbitkan sebanyak 10 buah buku. Tetapi kebiasaan membaca buku di kalangan bangsa kita belum tinggi walapun harga buku sekarang ini hanya sama dengan harga semangkuk mie Vietnam atau seporsi makanan cepat saji.

Saya merasa bahwa akan sangat mubazir sekali bila saya simpan terus di otak saya dan saya bawa ke liang lahat. Dengan perkembangan teknologi saat ini, penyebaran melalui tulisan adalah cara yang paling efektif untuk mencapai audiences dalam jumlah yang cukup besar. Penyebaran tulisan seperti itu tidak memberi balikan finansil untuk saya. Tetapi saya senang karena masih sering juga menerima ucapan terima kasih secara langsung dari cukup banyak pembaca walapun kita tahu bahwa  kebiasaan mengucapkan terima kasih sudah mulai luntur di antara bangsa kita.

Demikian yang bisa saya sarikan dari tulisan sdr Tobias tersebut. Tentang jenis-jenis tulisan yang bisa kita buat telah saya sebutkan dalam tulisan saya yang berjudul “Anda Ingin Menulis?  Walaupun demikian ada satu  kegiatan menulis yang sangat singkat yang anda bisa lakukan yaitu menulis di TWITTER. Tapi sampai saat ini saya tidak ikut-ikutan menulis di Twitter. Entah karena apa, saya juga belum  sempat memikirkannya.

Baca juga:  Anda Mau Menulis Artikel?

Jakarta, 26 Januari 2017