Melanjutkan tulisan saya yang berjudul “Budaya, Kebudayaan, dan Nilai-Nilai Budaya”, saya sengaja menayangkan tulisan ini sebagai penggugah dan pengingat.

Kita sering mendengar para pejabat, “tokoh” bangsa dan para elit politik, beretorika dengan bangga bahwa bangsa kita adalah bangsa “berbudaya”. Saya selalu bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan “berbudaya”? Apakah kata “berbudaya” yang mereka sebut itu maksudnya “beradab” dalam arti selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang ramah, sopan dan mau menghormati hak orang lain atas dasar hukum, peraturan, agama, adat istiadat dan kewajaran?

Di bawah ini akan saya sajikan contoh-contoh dari perilaku sebagian besar dari bangsa kita sehari-hari, bukan saja yang tinggal di kota-kota besar dan telah memperoleh  pendidikan yang lumayan tapi herannya juga dilakukan oleh mereka yang tinggal di pinggir kota dan di pedesaan. Apakah contoh-contoh itu mendukung pernyataan bahwa kita adalah bangsa yang berbudaya? Silakan para pembaca menilainya sendiri.

1. Tata Krama di jalan umum dan berlalu lintas

Penghormatan pada Penyeberang Jalan.

Di jalan-jalan di kota besar seringkali ditemukan “Zebra Cross” yaitu garis-garis tebal warna putih selebar kira-kira 2m dari sisi jalan yang satu ke sisi lainnya. Di tempat itulah para pejalan kaki boleh menyeberang walaupun tidak dibantu oleh lampu yang menghentikan kendaraan. Semua mobil atau motor akan menunggu sampai semua orang menyeberang. Tidak ada yang berani nyelonong. Itu bukan hanya terjadi di semua negara Eropa Barat dan juga di Timur yang telah beberapa kali saya saksikan dan alami sendiri, tapi juga di Amerika Serikat, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Turki. Herannya, kok orang Vietnam yang di negerinya juga penuh sesak dengan motor masih tetap mau menghormati para penyeberang jalan dan memberikan mereka kesempatan untuk menyeberang.

Di Jakarta sini? Saya tidak perlu bercerita bagaimana para pengemudi dan pengendara motor seperti tidak rela bahwa ada orang yang menghentikan laju kendaraan mereka karena harus menyeberang jalan. Tidak peduli walaupun di dekat situ ada Polisi Lalu Lintas. Saya ingat bahwa di jalan Pattimura yaitu antara Mabes POLRI dan Gedung Baharkam Polri, dulu sebelum dibuat underpass, pada “Zebra Cross” yang dibuat untuk orang-orang yang menyeberang antara dua gedung itu. Tapi saya ingat bahwa suatu hari saat meyeberang di situ, saya hampir dijepit oleh sebuah mobil dan motor yang sama sekali tidak mempedulikan Zebra Cross itu.

Baca juga:  Budaya, Kebudayaan Dan Nilai Nilai Budaya

Di negara-negara lain, terutama di Jepang, bila bus atau truk berhenti di perempatan yang ada lampu merah pada malam hari, mereka akan mematikan lampu utama supaya tidak mengganggu orang yang menyeberang jalan. Budaya saling menghargai antar sesama manusia di antara orang Jepang itu juga mereka terapkan saat berada di jalan raya.

Sebagai penutup, saya masih punya cerita yang sangat menarik sebagai berikut. Tahun 1976, saat saya bekerja di sebuah perusahaan asal USA di kota Bogor. Dalam sebuah percakapan santai sambil makan siang, seorang rekan kerja yang bangsa Amerika Serikat  berkata; “Orang Indonesia sangat ramah tapi begitu duduk di belakang kemudi, mereka jadi seperti orang tidak waras!” Saat itu saya hanya tertawa bergelak. Tetapi kalau saat ini (40 tahun kemudian) orang itu masih hidup dan datang lagi ke Indonesia, ia akan mengira di Jakarta semakin banyak orang tidak waras.

2. Tata Krama Pergaulan dan  Bermasyarakat

Tahun 2012 lalu, saya mengajak seorang teman berbangsa Korea, Presiden Direktur sebuah perusahaan Korea yang sedang membangun pabrik baja di daerah Cilegon, Banten untuk ikut dengan saya dan beberapa teman pergi memancing di laut di selatan Banten. Saat makan siang, setelah selesai kami yang orang Indonesia meninggalkan piring sendok dan garpu bekas kami pakai untuk diangkat oleh Anak Buah Kapal yang bertugas mengurus makan dan minum.
Tetapi, PresDir perusahaan Korea itu memasukkan dulu sisa-sisa makanannya ke tempat sampah lalu mengantarkan piring, sendok dan garpunya yang sudah setengah bersih kepada Anak Buah Kapal itu.
Kami yang melihat apa yang dilakukannya, sebagai orang Indonesia merasa malu karena selalu bergaya “boss” yang minta dilayani terus. Kami harus mengakui bahwa “boss”  Korea itu lebih “beradab” daripada kami. Perilaku orang Korea itu umum bagi karyawan Korea termasuk pimpinan puncak perusahaan mereka.
Pemuda pemilik kapal yang kami pakai mancing bersama orang Korea yang saya jadikan contoh itu dan kebetulan baru saja kembali dari mengunjungi Jepang. Ia   bercerita sebagai berikut.
“Setelah mengunjungi Jepang, aku makin sadar bahwa bangsa kita sangat tertinggal dalam berbudaya. Misalnya, di kota-kota besar di sini sangat sulit melihat tempat sampah. Semuanya sangat rapi dan bersih. Sampai sampai toilet umum di stasiun subway saja sangat bersih luar biasa. Mau berjalan kaki saja ada aturannya. Selain itu, semua orang selalu sopan dan santun kepada orang lain, termasuk pada orang asing. Tidak seperti di Jakarta, semua serba emosian. Kalau mereka sedang berjalan kaki lalu tanpa sengaja menghalangi orang lain atau memotong jalur jalan orang lain saja, mereka minta maaf  sambil menunduk. Kita di Indonesia, terutama jakarta, mana ada orang yang akan minta maaf. Akan cuek saja.

Baca juga:  Kepekaan Budaya, Sebuah "Soft Competency" Yang Mutlak Diperlukan Untuk Mengembangkan Karir Dalam Era Globalisasi

3. Apa Kata Bangsa Asing tentang Indonesia?

Tahun 2013 lalu, saya cukup terkejut karena menerima tulisan bernada humor melalui BB Broadcast dari seorang teman. Katanya, tulisan tersebut dibuat seorang asing “Barat” yang sudah lama tinggal di Indonesia. Isinya menyindir beberapa kebiasaan bangsa kita yang tinggal di kota-kota besar terutama Jakarta. Tulisan itu aslinya dalam bahasa Inggris lalu saya alih bahasakan beberapa butir yang paling menarik dan pas. Lengkapnya adalah sebagai berikut.

Broadcast-nya berjudul:
“SUDAH TERLALU LAMA DI  INDONESIA”

Anda sadar bahwa anda sudah terlalu lama tinggal di Indonesia jika……;

  1. Bekas injakan di dudukan toilet adalah bekas kaki anda juga.
  2. Kalau antri, anda tidak mulai dari belakang tapi langsung ke paling depan.
  3. Anda sudah punya kebiasaan memijit semua tombol yang ada dalam Lift.
  4. Anda senang memaksa  masuk ke dalam lift sebelum semua orang keluar.
  5. Anda tidak lagi merasa heran bahwa satu-satunya keputusan yang dibuat dalam rapat adalah tentang waktu dan agenda rapat berikutnya.
  6. Anda menilai kemampuan bawahan anda membuat keputusan dari berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk menjawab; “Up to you, Mister”.
  7. Anda pikir akan menghemat waktu bila segera berdiri untuk mengambil tas dari tempat barang walau pesawat belum berhenti
  8. Anda berjalan masuk ke cafe dan bar bersama teman lelaki anda sambil berangkulan.
  9. Anda masuk lobby hotel Bintang 5 cuma bercelana jogging, kaus lusuh dan sandal jepit tanpa pusing tentang apa yang dipikir oleh manajemen hotel dan tamu-tamu yang ada di situ.
  10. Anda menjawab telepon dengan ucapan “Halo” lebih dari dua kali.
  11. Anda jadi biasa mengabaikan tanda-tanda dan lampu lalu lintas.
  12. Anda anggap itu sebagai  pengalaman seru jika pelayan restoran mengulang secara tepat pesanan anda tapi juru masak membuat makanan yang sama sekali berbeda.
  13. Anda sudah terbiasa jika perlu 3 orang dan 1 tangga untuk mengganti bola lampu di kantor anda.
  14. Bila anda dalam pesawat terbang, anda sudah menggunakan HP anda saat roda pesawat baru saja menyentuh landasan.
  15. Anda selalu percaya dengan apa yang diberitakan oleh media-media lokal dan berita “hoax” di media sosial .
Baca juga:  Persepsi Stereotip Dan Pengaruhnya Pada Efektivitas Interaksi Budaya

Kembali ke pertanyaan saya di awal, saya simpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan “berbudaya” oleh para pejabat, tokoh masyarakat dan politikus itu adalah bahwa bangsa kita itu kaya dengan berbagai kesenian, beragam pakaian dan upacara-upacara adat.

Saya menafsirkannya begitu karena sikap sopan dan ramah pada bangsa kita cenderung hanya ditunjukkan kepada orang yang punya kuasa atau punya status yang tinggi secara ekonomis atau karena “warna” darahnya. Padahal, untuk jadi bangsa yang maju kita harus beradab dulu, tidak sebaliknya. Oleh karena itu, “adab” yang tepat  harus diajarkan kembali di sekolah sejak usia dini. Selain itu juga dilakukan melalui penegakkan hukum yang keras seperti yang dilakukan di negara-negara maju dan di Uni Emirat Arab.

Selamat Beraktivitas