Terus terang bahwa tulisan ini saya buat dengan cepat karena terprovokasi Sdr. Denny J.D, pemuda Surabaya yang merupakan salah seorang dari Tim In Service Rumah MSDM, sebuah group telegram para praktisi, konsultan dan pakar MSDM Indonesia.

Pada tanggal 1 Januari 2017 malam, saat itu saya masih berada di Sevilla, Spanyol Selatan, Sdr. Denny menulis pesan pribadi pada saya via Telegram meminta saran dan petunjuk dari saya agar dia juga bisa menulis artikel dan produk tulisan lainnya dengan lebih produktif, katanya seperti saya. Saat itu saya hanya katakan bahwa keinginannya adalah sesuatu yang patut saya puji tetapi untuk memberi petunjuk dan “tip” yang lebih rinci ia harus menunggu sampai ia datang lagi ke Jakarta dan dia harus ke Jakarta untuk berbincang langsung dengan saya.

Tetapi, setelah kembali ke Indonesia, pada tanggal 11 Januari lalu, saya memutuskan untuk memberi petunjuk secara tertulis terlebih dahulu. Dan Denny kemudian menyarankan agar petunjuk tertulis yang saya berikan kepadanya dipublikasikan juga via Blog saya karena ia yakin bahwa rekan-rekan seusianya dan seprofesi juga banyak yang berminat belajar tentang teknik menulis. Saya mempersilahkannya melakukan itu. Petunjuk yang saya berikan kepadanya adalah dibawah ini.

ARTIKEL DAN CARA MENULISNYA.
Sebenarnya saya tidak tahu apakah saya “qualified” untuk memberi petunjuk dan saran tentang teknik menulis. Selama 40 tahun terakhir sejak tahun 1976 saya telah menulis belasan makalah, beberapa artikel yang diterbitkan dan puluhan catatan pendek yang disebar melalui media sosial dan 10 buah buku yang diterbitkan resmi. Tetapi untuk menghasilkan karya-karya itu saya hanya belajar sendiri (learning by doing) dengan menjadikan karya tulis orang lain yang menurut pikiran saya bagus sebagai panduan. Saya tidak pernah mengikuti pelatihan atau kursus khusus untuk menulis artikel, kecuali pelatihan untuk membuat laporan dan proposal dalam kaitan dengan pekerjaan di perusahaan.

MENULIS ADALAH SALAH SATU CARA BERKOMUNIKASI
Tujuan menulis dan berbicara pada dasarnya adalah sama, yaitu untuk menyampaikan gagasan, pesan (permintaan, perintah), laporan dan lain-lain dari satu orang ke orang lain atau satu pihak ke pihak lain. Yang berbeda tentunya adalah metode, teknik atau caranya. Berbicara tentunya menggunakan mulut yang membunyikan suara-suara yang memiliki arti tertentu. Menulis adalah melalui penggambaran bentuk-bentuk yang juga mempunyai arti. Pada jaman 4000 sampai 3000 tahun lalu, sebagian besar masih berbentuk lambang-lambang yang berbentuk binatang, benda, dll. Sejak 2000 tahun lalu, sebagian besar dari gambar-gambar itu disebut “abjad” atau “alphabet” yang mengikuti abjad Latin yaitu A sampai Z walaupun masih ada yang tetap menggunakan simbol (lambang) atau bentuk lain misalnya bahasa Cina, Jepang (Kanji), Korea dan Arab.

JENIS JENIS KOMUNIKASI TERTULIS
Pada dasarnya ada 5 (lima) jenis komunikasi dalam bentuk tertulis, yaitu:

  1. Surat, Surat Elektronik (Email), dan pesan melalui berbagai jenis media sosial yang pada jaman ini populer. Jenis komunikasi tertulis seperti ini adalah komunikasi tertulis informal yang dilakukan oleh satu orang dengan seorang lainnya.
  2. Surat Menyurat Resmi, Laporan, Proposal. Jenis komunikasi tertulis kelompok ini adalah bentuk bentuk komunikasi formal yang biasa dilakukan dalam sebuah organisasi, baik itu institusi pemerintahan sipil, militer, kepolisian atau korporasi (perusahaan).
  3. Karya Tulis (Artikel) Ilmiah yang biasa harus dibuat oleh mahasiswa atau malah pelajar SMA dan para akademisi yang diterbitkan oleh media yang biasa disebut “Jurnal”. Makalah adalah yang biasa dibagikan kepada peserta seminar atau konferensi. Jenis-jenis karya tulis itu adalah komunikasi tertulis antara satu orang atau lebih dengan pembaca dengan jumlah terbatas, misalnya di lingkungan akademisi, organisasi profesi dan sekelompok orang yang punya minat yang sama.
  4. Artikel Semi Ilmiah dan Artikel Populer. Dua jenis karya tulis ini adalah bentuk-bentuk komunikasi antara satu atau beberapa orang dengan pembaca yang jumlahnya tidak dibatasi yaitu siapa saja boleh baca.
  5. Catatan untuk Group di Media Sosial. Karya tulis ini sebenarnya mirip dengan sebuah artikel tapi jauh lebih ringkas karena ruang yang terbatas. Karya tulis jenis ini sekarang sangat populer di kalangan pengguna media sosial. Pembacanya sebenarnya hanya anggota dari kelompok di media tersebut tetapi bila dianggap menarik bisa menyebar ke banyak kelompok melalui cara yang dikenal dengan “copy paste”.
Baca juga:  Ethos, Pathos, Logos

Tulisan saya ini akan fokus pada kelompok ke 4 yaitu Artikel Semi Ilmiah dan Artikel Populer. Tetapi sebelumnya saya perlu menjelaskan apa perbedaan antara apa yang saya sebut Artikel Ilmiah, Artikel Semi Ilmiah dan Artikel Populer.

KARAKTERISTIK ARTIKEL SEMI ILMIAH DAN ARTIKEL POPULER
Sebuah artikel ilmiah akan atau harus menggunakan format dan struktur yang sudah ditetapkan. Biasanya dibuka dengan apa yang disebut “abstract”, lalu ada Pengantar, kemudian batang tubuh (isi) dan ditutup dengan kesimpulan dan saran. Semua yang disebut Artikel Ilmiah selalu harus didukung dengan banyak data dan fakta, baik berupa data primer hasil penelitian atau perhitungan. Kemudian juga dilengkapi dengan rujukan (referensi) baik dari kepustakaan atau artikel ilmiah lain yang sudah diterbitkan di Jurnal-Jurnal. Gaya bahasa yang digunakan untuk menulis sebuah artikel ilmiah juga bersifat formal. Tidak boleh bersifal personal dan “santai” sehingga biasanya memberi kesan kaku.

Artikel Semi Ilmiah dan Artikel Populer agak mirip. Format dan strukturnya lebih bebas, tidak mengikuti Artikel Ilmiah. Tulisannya bersifat informal dengan gaya bahasa yang lebih santai. Tetapi bila penulisnya juga memasukan beberapa data dan fakta serta mendukung artikelnya dengan rujukan dan referensi maka artikel itu saya sebut sebagai artikel “semi ilmiah”.

MERENCANAKAN ARTIKEL POPULER
Yang dilakukan dalam tahap perencanaan sebuah artikel populer adalah menjawab sejumlah pertanyaan dibawah ini:
1. Apa yang ingin kita komunikasikan kepada pembaca? Topiknya apa?
. Apakah hasil pengamatan, penelitian atau studi pribadi?
.”Laporan” (catatan) hasil kunjungan ke suatu tempat atau fasilitas, atau catatan/oleh-oleh dari suatu perjalanan?
. Teknik atau metode untuk melakukan sesuatu?

2. Siapa yang menjadi target pembaca artikel kita? Siapa mereka?
. Apakah orang-orang yang kita kenal secara pribadi?
. Atau kalangan umum yang sebagian besar tidak kita kenal?
. Bagaimana pemahaman mereka tentang topik yang akan kita tulis? Apakah masih awam? Sudah tahu sedikit? Atau justru orang-orang yang sudah sangat memahami?

Baca juga:  Berkarir Sebagai Specialist Atau Generalist Dalam Industri - Apakah Sebuah Pilihan?

3. Untuk apa kita menulis artikel tentang topik itu? Apa tujuannya?
. Menyebarkan “pesan” dengan tujuan mempengaruhi pandangan dan sikap pembaca dan terjadi perubahan?
. Hanya berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang dirasa bermanfaat bagi orang lain.
. Berbagi apa yang dilihat dan dirasakan dalam perjalanan yang telah kita lakukan.

Jawaban terhadap tiga pertanyaan itu akan menentukan berbagai “fitur” dari artikel yang akan kita tulis misalnya;
. kedalaman pembahasan.
. panjangnya artikel,
. gaya dan tata bahasa, dan
. referensi (rujukan) diperlukan untuk mendukung.

Selain itu, kita dapat menggunakan tiga elemen dari kemampuan mempengaruhi orang lain yang disebut “Ethos”, “Pathos” dan “Logos” yang sudah kita kuasai untuk mengevaluasi yang mana dari tiga itu yang dapat dijadikan “modal” untuk membuat tulisan dan yang mana yang tidak.

Ada sebuah catatan khusus terkait “ethos”. Untuk saya pribadi, walaupun misalnya saya yakin bahwa saya “qualified” dan mempunyai kredibilitas untuk mengulas sebuah topik tertentu, saya selalu berusaha keras untuk tidak menulis dengan nada “menggurui” pembaca. Terserah kepada mereka, bila mereka pikir bahwa apa yang saya sampaikan atau saya ulas itu benar dan tepat untuk digunakan, silahkan. Bila mereka pikir tidak bisa, juga tidak apa-apa. Bagi yang lupa tentang konsep ini silahkan baca kembali tulisan saya tentang Ethos, Pathos dan Logos yang juga ada di Blog ini.

STRUKTUR TULISAN HARUS MENGHASILKAN “A.I.D.A”
Dibagian awal saya sudah jelaskan bahwa struktur sebuah artikel lebih bersifat fleksibel, tidak wajib mengikuti format seperti Karya Ilmiah atau Makalah. Kita tidak wajib membukanya dengan pengantar dan menutupnya dengan kesimpulan. Kita bisa memulai dengan menceritakan sebuah atau contoh dan menutupnya dengan pertanyaan. Ada sebuah petunjuk bagus yang saya peroleh dari seorang Marketing / Sales Trainer dalam sebuah pelatihan yang saya ikuti sekitar 30 tahun lalu di Jakarta. “Tip” beliau masih sering saya pakai termasuk dalam presentasi lisan. Petunjuknya adalah bahwa semua komunikasi dengan tujuan mempengaruhi orang (termasuk menjual) harus memperoleh A.I.D.A. Aida yang dimaksud bukanlah nama seorang perempuan tetapi singkatan dari;
. Atention (Perhatian/Atensi)
. Interest (Minat)
. Desire (Keingin tahuan)
. Action (Tindakan).

Jadi setiap kali ada orang melihat judul artikel kita, ia akan tertarik dan memperhatikan. Kemudian ia akan berminat membacanya. Lalu berkeinginan memahami lebih dalam lagi dan akhirnya melakukan apa yang disarankan (“take action”).

Dengan demikian maka A dari AIDA itu penting sekali. Sama dengan yang dilakukan oleh para perancang promosi produk yang berusaha keras untuk memperoleh atau memancing “perhatian” calon pembeli yang lewat dan lanjut ke tahap tahap “I”, “D” dan A”

Untuk memperoleh “A” dalam presentasi lisan atau dalam tulisan saya selalu berusaha menerapkan teknik yang disebut “B.W.A.B” yang adalah singkatan dari “Begin With A Bang”. Artinya mulailah dengan “bang” yaitu sebuah bunyi yang keras seperti sebuah ledakan atau letusan. Misanya kita memasuki sebuah ruangan yang penuh orang yang sibuk berbincang dengan ramai dan kita harus menyampaikan sebuah maklumat, kita harus membunyikan sesuatu dengan keras sekali sehingga mereka semua akan memperhatikan kita.

Baca juga:  Keluar Dari Lingkaran Labyrinth

GAYA DAN TATA BAHASA
Untuk sebuah artikel yang non ilmiah saya biasa menggunakan gaya bahasa yang santai saja. Misalnya menggunakan sebutan “saya” dan bukan “penulis” untuk merujuk kepada diri sendiri sebagai penulis artikel itu. Demikian pula dengan sebutan-sebutan anda, ia atau beliau dan kita bila berusaha menjadikan pembaca sebagai bagian dari “plot” cerita.
Tetapi mengenai tata bahasa saya selalu berusaha menggunakan tata bahasa yang benar yang saya pelajari dulu saat di SD sampai SMA. Bila artikel kita ditulis dalam bahasa Indonesia dan ditujukan pada pembaca yang orang Indonesia, saya sarankan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bila kita terpaksa menggunakan atau mengkutip kata atau kalimat dari bahasa asing harus diberi tanda ” pada awal dan akhir dari kata kata itu. Tetapi saat ini, yang lebih umum adalah menulis kata atau kalimat asing itu dengan huruf (“font”) miring (“italic”)

Penutup:
BAGAIMANA MENUMBUHKAN KREATIVITAS DAN PRODUKTIVITAS UNTUK MENULIS.
Terus terang, saya cenderung berpikir bahwa kegemaran menulis itu adalah sebuah bakat. Kalau anak Betawi bilang; “Udah dari sononya”. Tapi saya tidak bisa membuktikan itu. Saya hanya bisa mengatakan bahwa menulis hanya akan dilakukan oleh orang yang senang mengekspresikan apa yang dipikirnya dan membaginya dengan orang lain secara tertulis. Saya sendiri baru mulai membuat tulisan ringan saat mulai bekerja. Saat itu masih menggunakan mesin tik “jadul”.

Tetapi ada orang lebih suka melakukannya secara lisan. Ada juga yang bisa melakukannya menggunakan kedua cara itu.

Mungkin juga ada sebuah situasi yang telah memaksanya untuk menggunakan cara itu. Saya ingat bahwa saat mengikuti program MBA di Melbourne, saya harus mengulas minimal sebuah studi kasus bisnis setiap minggu selama dua tahun dan membuat “paper” yang didukung oleh hasil perhitungan dan analisa untuk tiap kasus tersebut. “Paper” itu akan dinilai oleh dosen.

Kemudian, dalam pekerjaan-pekerjaan saya, saya biasakan menuliskan pesan atau permintaan dari atasan, membuat notulen (risalah) rapat dan tambahan informasi dari konsultan dan narasumber (untuk hal-hal yang tidak ada dalam makalah). Tujuan saya adalah agar semuanya itu tercatat dan saya tidak lupa. Sampai saat ini, kebiasaan tersebut masih menempel pada saya. Apalagi pencatatannya sekarang dipermudah dengan menggunakan “smartphone” atau “tablet”. Untuk menulis sebuah artikel, seperti yang ini, begitu mendapat gagasan saya catat butir-butir yang akan saya masukan dalam artikel itu agar tidak lupa. Kapan dan dimana membuat tulisannya? Dimana saja ada waktu kosong. Di mobil, di ruang tinggu bandara, atau di tempat tidur.

Demikian petunjuk yang saya berikan kepada sdr Denny JD. Mudah mudahan juga bermanfaat bagi yang lain.

Jakarta, Januari 2017