Kemarin tanggal 3 Mei 2018 sore, saya mendapat sebuah kejutan yang membahagiakan dan sekaligus menimbulkan rasa penasaran di benak saya. Saya akan berbagi dengan anda semua tentang apa yang membuat saya penasaran, dan pertanyaan-pertanyaan apa yang ada di benak saya melalui tulisan ini. Saya yakin masih banyak dari anda yang tertarik dengan masalah itu selain sibuk membahas topik terkait generasi milenial dan digitalisasi sistem-sistem MSDM.

Kemarin sore saya mampir di supermarket besar di jalan Radio Dalam, Jakarta untuk belanja beberapa bahan keperluan harian. Saat berhadapan dengan kasir, seorang pria paruh baya tapi masih terlihat segar mendatangi saya dari luar dan menegur saya dengan ucapan; “Apa kabar, Pak?” Kemudian ia  menyalami dan malah mencium tangan saya. Saya terkejut dan ketika melihat wajahnya yang sumringah saya langsung ingat padanya. Ia adalah supir yang pada tahun 1996 sampai 1998 melayani saya saat saya menjadi Direktur HR di Mercedes Benz Indonesia (PT German Motor Mfg). Itu adalah pertemuan saya yang pertama dengannya sejak saya meninggalkan perusahaan itu pada awal bulan Januari tahun 1998, yaitu 20 tahun plus 4 bulan yang lalu.

Sambil sibuk dengan urusan belanja, kami sempat berbincang dan saya bertanya mengapa ia ada di situ? Ia menjelaskan bahwa ia sedang mengantar istri majikannya yang juga berbelanja di situ. Istri majikannya itu adalah seorang wanita Jerman, yaitu istri dari Presiden Direktur Mercedes Benz Indonesia. Ternyata, sejak saya meninggalkan perusahaan tersebut, ia terus bekerja di sana dan tahun depan akan mencapai usia pensiun. Wajah dan penampilannya tidak berubah banyak, walaupun usianya sudah 55 tahun.

Dalam pertemuan singkat tersebut ia menggunakan kesempatan itu untuk berceritera bahwa sekarang ia sudah punya rumah sendiri dengan menyicil rumah BTN di daerah Pamulang, Tangerang Selatan. Kemudian anaknya yang kedua, yang laki-laki, juga sudah lulus dari UNPAD. Tidak lupa pula ia mengucapkan terima kasih lagi kepada saya yang dianggapnya telah memberi jalan kepadanya untuk mengubah nasibnya menjadi jauh lebih baik.

Baca juga:  Persepsi Stereotip Dan Pengaruhnya Pada Efektivitas Interaksi Budaya

Saya ingat, pada tahun 1986, yaitu setelah 2 tahun saya bergabung di perusahaan itu, ia saya angkat menjadi pengemudi mobil dinas saya menggantikan dua pengemudi sebelumnya yang disediakan oleh Pool Kendaraan. Saya kasihan dengan dua pengemudi itu karena tempat tinggal mereka jauh dari rumah saya yang berlokasi di daerah Tangerang Selatan. Pabrik dan juga kantor Direksi perusahaan berlokasi di daerah Wanaherang, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, tetapi semua anggota Direksi, semua pejabat senior sampai supervisor dan sebagian karyawan tingkat operator tinggal di wilayah Jabodetabek.

Saya lupa siapa yang merekomendasikannya dan mengapa ia yang saya minta datang bertemu saya di rumah. Tes mengemudi dan wawancaranya saya lakukan di rumah saya karena tempat tinggalnya cukup dekat dengan rumah saya. Singkat ceritera, ia saya angkat sebagai karyawan dengan status PKWT untuk 1 tahun. Setahun kemudian kontraknya saya perpanjang untuk waktu 1 tahun lagi. Pada saat kontraknya yang kedua akan berakhir saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Saya memutuskan untuk menjalani karir kedua sebagai konsultan bebas, tetapi akan saya dahului dengan menyelesaikan penelitian untuk penyelesaian disertasi doktoral saya dan sekaligus menyelesaikan penulisannya.

Waktu saya memberitahu pengemudi saya tersebut bahwa saya akan mengundurkan diri, ia terlihat sangat tertekan dan sedih. Ia sangat khawatir akan menganggur lagi karena perpanjangan kontraknya sudah akan berakhir. Kebetulan saat itu, Presiden Direktur (Ekspatriat Jerman), yang hubungannya dengan saya cukup baik, juga ingin mengganti pengemudinya. Saya tawarkan kepadanya untuk mencoba pengemudi yang melayani saya, dan ternyata ia dan istrinya merasa cocok dan suka pada pengemudi tersebut. Mereka saya persilakan untuk mempekerjakannya, dan sampai saatnya saya pergi, saya menggunakan pengemudi dari Pool kendaraan. Saat saya memberi tahu supir saya bahwa ia akan “dicoba” oleh Presiden Direktur sebagai pengemudinya, ia tidak terlihat gembira tetapi malah lebih khawatir.

Saya memaklumi kekhawatirannya karena  sebelumnya ia tidak pernah melayani tenaga asing apalagi orang “bule”. Saya mencoba menumbuhkan rasa percaya dirinya bahwa alasan saya merekomendasikannya kepada Presdir yang orang Jerman itu adalah atas dasar penilaian saya, istri saya, dan anak-anak saya selama ia melayani kami selama masa 2 tahun itu. Saya katakan bahwa bila ia tetap mempertahankan lima hal yang selama ini ia selalu tunjukan, maka ia akan “terpakai” terus. Ia bertanya, apa saja itu Pak? Ini penjelasan yang saya berikan.

Baca juga:  Peran Dan Pengaruh Postur Dan Gerak Anggota Tubuh Dalam Berinteraksi Dan Berkomunikasi Lintas Budaya

1. Caranya mengemudikan kendaraan (yang tergolong mobil mewah) yang selalu diterapkannya. Dengan cepat ia menguasai seluruh aspek teknis dari kendaraan termasuk peralatan elektroniknya yang berkembang terus.

2. Kebiasaannya memelihara kebersihan mobil dan melakukannya tiap kali ada waktu, serta mengingatkan bila tiba saatnya harus menjalani “service” periodik.

3. Mengemudikan mobil dengan sabar, tenang, tidak pernah bersungut-sungut, apalagi menunjukkan rasa marah kepada pengemudi kendaraan lain di jalanan.

4. Penampilannya yang selalu rapi dan pakaian yang bersih walaupun untuk pengemudi Direksi tidak disediakan pakaian kerja (seragam).

5. Sikap dan perilakunya yang selalu sopan, ramah, sumringah dan berbicara seperlunya, yaitu hanya saat ditanya dan merasa perlu menyampaikan informasi atau pesan. Juga selalu ringan tangan siap membantu, dari mulai membukakan pintu mobil sampai membawakan barang-barang dari mobil atau ke mobil.

Ia masih khawatir tentang kemampuannya berbahasa Inggris. Apalagi pendidikan yang dicapainya hanya SMP. Saya meyakinkannya bahwa itu tidak sangat diperlukan, walaupun bila ia mau belajar lagi sedikit-sedikit tentu sangat bermanfaat. Secara bergurau saya katakan bahwa boss-boss asing itu, akan lebih senang bila supir mereka tidak mengerti bahasa mereka agar mereka bisa berbicara bebas tentang apa saja tanpa ada yang menguping. Dengan kata lain, yang saya bicarakan adalah elemen-elemen kompetensi yang dituntut oleh profesi pengemudi yang melayani para  pejabat korporasi level eksekutif.

Akhirnya ia paham dan menyatakan siap mencobanya. Saat saya mau pergi, atas persetujuan Presiden Direktur yang sekarang menjadi bosnya, saya memberinya sebuah hadiah yang ia rasakan dampaknya sampai sekarang ini, yaitu saya mengangkatnya secara resmi menjadi karyawan tetap, bukan lagi kontrak.

Yang membuat saya cukup terkejut adalah bahwa dia masih terus “bertahan” atau terus “terpakai” selama 20 tahun lebih ini. Faktor-faktor apa yang telah membuat dia, kalau menurut istilah sekarang, “engaged” seperti itu? Padahal selama 20 tahun itu “boss”-nya telah 4 kali berganti dan mengapa ia selalu “dipakai” oleh orang yang baru, tentunya karena ada rekomendasi dari bosnya yang lama.

Baca juga:  Sistem Nilai Budaya Bangsa Berpengaruh Terhadap Efektivitas Penerapan Konsep dan Teknik Manajemen

Tetapi satu lagi pertanyaan yang menggelitik adalah bahwa, walaupun semua bosnya adalah Presiden Direktur dan semuanya orang Jerman, tetapi dalam hal karakter/kepribadian, tentu mereka tidak sama, karena mereka adalah manusia, bukan robot. Tapi kenyataannya ia tidak punya masalah dengan hal itu dan juga dengan perbedaan dalam nilai-nilai budaya, yaitu budaya Indonesia/Sunda dengan budaya Barat/Jerman yang ia telah hadapi selama 20 tahun itu.

1. Apakah karena “basic needs” (kebutuhan dasar)-nya telah tercukupi sehingga ia tidak pusing dengan hal lain? Bahwa “basic needs” sudah terpenuhi saya sangat yakin, karena:

⁃ Upah  pokoknya sudah jauh di atas UMK. Pendapatan kotornya setiap bulan akan sekitar 200% dari upah pokoknya karena tambahan uang lembur. Setiap minggunya, para pengemudi yang melayani pejabat eksekutif itu harus bekerja rata-rata 6 hari, sekitar 16 jam sehari.

⁃ Fasilitas kesejahteraan lainnya? Itu juga sudah pasti.

2. Apakah karena ia merasakan telah ada “Job Security” karena sudah berstatus sebagai karyawan organik dan tetap (PKWTT)?

3. Apakah karena perlakuan baik yang ia terima dari bos-bosnya membuatnya betah dan tetap setia?

4. Apakah karena pergaulan sosial di dalam? Paling-paling dengan sesama supir dan dengan supir dari perusahaan lain bila sedang mengantar bosnya ke acara di tempat lain.

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadikan saya penasaran dan ingin mendapat jawabannya. Sayangnya kemarin saya pun sedang terburu-buru sehingga tidak bisa mewawancarainya. Juga sulit bagi saya untuk mencari referensi karena para pembelajar MSDM dan Psikologi lebih tertarik untuk melakukan penelitian yang obyeknya generasi milenial atau tenaga kerja dengan pendidikan tinggi.

Apakah ada yang mau dan berminat menanggapi? Silakan. Saya tertarik membacanya.

Jakarta 4 Mei 2018