Mereka yang saat kecil pernah membaca buku ceritera anak anak yang berasal dari dunia “Barat” berjudul Alice In The Wonderland
(atau mungkin baru setelah dewasa lsempat menonton filmnya) tentu
ingat pada adegan saat Alice tersesat di jalan yang bertumpang tindih saling menyilang dan tidak jelas dimana ujungnya, mirip sebuah “Labyrinth”. Tiba tiba, di salah satu jalan Alice bertemu dengan seorang kakek kakek dan Alice bertanya kepadanya dan terjadilah dialog sebagai berikut:

Alice: “Kakek, bisakah anda menunjukan kepada saya, jalan mana yang harus saya tempuh?”
Kakek kakek: “Kamu mau pergi kemana?”
Alice: “Saya tidak tahu mau kemana”.
Kakek kakek: “Kalau begitu, jalan manapun yang kamu tempuh akan membawa kamu kesana”.

Dalam sebuah film Holywood akhir tahun ‘80an tentang kisah Raja Arthur (diperankan oleh Sean Connery) dan Lancelot (diperankan oleh Richard Gere), ada adegan saat Lancelot ditawari posisi Ksatria oleh Arthur tetapi menolaknya. Lancelot berkata bahwa ia masih ingin berkelana ke arah mana saja sang kuda kesayangannya membawanya. Ketika Raja Arthur bertanya: “Apakah kamu tidak punya tujuan hidup?”. Lancelot menjawab: “Itulah tujuan hidup saya saat ini”.

Adegan dari kisah Alice dan Lancelot itu adalah sebuah pelajaran bagi sebuah organisasi atau individu, bahwa bila organisasi itu atau kita tidak tahu harus kemana kita pergi maka kita akan terus berputar putar dijalan yang sama. Dalam istilah sekarang, arah yang harus kita tuju di “ujung” perjalanan kita disebut “vision”.
Dalam konteks individu, vision juga bisa diartikan sebagai profesi atau jalan hidup yang kita bayangkan bahwa akan kita jalani dan diyakini akan memberi kita kepuasan besar, apakah dari sisi materi dan/atau dari sisi batin. Bila “impian” itu sudah jelas dan tehas maka artinya kita sudah mulai mengevaluasi apakah kita sudah berada pada arah (track) yang benar atau justru di arah yang keliru.

Baca juga:  Kartu Nama

Arah hidup adalah juga refleksi dari orientasi (kecondongan) kita dan oruentasi tersebut direfleksikan dari apa-apa yang kita beri nilai tinggi dalam hidup ini. Tahun 1972, waktu saya sedang mengikuti program MBA di Melbourne, Australia, seorang dosen memberikan sebuah test sebagai demonstrasi tentang cara mengenali orientasi hidup kita, yaitu apa saja yang kita beri nilai sangat tinggi dalam hidup ini. Pilihannya adalah dibawah ini:

  1. Finansial/Materi
  2. Kekuasaan
  3. Hubungan Sosial
  4. Keilmuan (hal-hal berbau Sains)
  5. Spiritual

Dari test tersebut ternyata saya tidak memberikan nilai tinggi pada aspek-aspek finansial/materi dan kekuasaan. Artinya, saya tidak berbakat jadi pengusaha walaupun saya sekolah manajemen bisnis! Demikian pula untuk jadi politikus (kekuasaan) apa lagi untuk menjadi Kyai!. Kembali di Indonesia, saya sempat pindah-pindah bidang kerja dari Marketing ke Strategic Planning, Keuangan, Administrasi dan akhirnya MSDM.

Tahun 1982, perusahaan tempat saya bekerja melaksanakan asesmen karyawan level manager ke atas dengan metode 360 derajat. Artinya, selain mengikuti test tulis lengkap saya juga dinilai oleh atasan, rekan dan bawahan saya. Akhirnya seorang psikolog yang didatangkan dari Houston, Texas, A.S menjelaskan sebagai berikut:

  1. Saya menyukai pekerjaan-pekerjaan yang bersifat memecahkan masalah dan mencari solusi (problem solving). Kepuasan saya datang dari situ. Bila pekerjaan kemudian menjadi rutin (itu-itu saja) maka saya akan menjadi jenuh dan jemu! Dengan kata lain kata mereka; saya cocok jadi KONSULTAN. 
  2. Terkait dengan kesukaan tersebut, saya juga senang belajar dan selalu penasaran untuk mengetahui hal-hal baru dan metode kerja baru.
  3. Selalu siap menerima tanggung jawab/mengambil posisi memimpin dalam melaksanakan pekerjaan.
  4. Suka bekerja sangat cepat dan membuat keputusan dengan cepat.

 

Sebaliknya dari kekuatan saya tersebut, maka muncul kekurangan yang harus diperbaiki yaitu:

  1. Saya sangat tidak sabaran, kadang-kadang tergesa-gesa (kata orang Jawa Timur “Kosro”, hehehe).
  2. Bila rencana tidak bejalan seperti diharapkan saya terlihat sangat kesal dan tertekan.
  3. Bila berada dalam kondisi tertekan, saya cenderung tidak bisa mengendalikan mulut saya dan bisa mengucapkan kata kata kasar.

Semua hasil test tersebut (termasuk yang tahun 1971 dilakukan di Melbourne) saya jadikan bahan untuk melakukan analisa diri dan merumuskan rencana jangka panjang bagi hidup saya. Selain darpada punta punya visi dan tujuan tujuan yang jelas saya juga terus berusaha meningkatkan kompetensi (termasuk menongkatkan soft competency terutama sikap dan perilaku) dan meningkatkan kredibilitas diri!

Baca juga:  Curriculum Vitae (CV)

Mudah-mudahan ceritera ini ada manfaatnya bagi semuanya.

Selamat beraktivitas