“MASA DEPAN YANG  EXTREME”

Tulisan ini tidak akan membahas tentang masa depan kehidupan terkait perkembangan teknologi digital atau perkembangan generasi angkatan kerja tetapi tentang alam dimana kita ini hidup.

Belum lama, saya iseng membuka lagi sebuah buku terbitan tahun 2008 berjudul “The Extreme Future” yang ditulis oleh James Canton PhD, seorang “futurologist” mirip Prof. Alvin Toefler.
Bedanya, James Canton bukan hanya mengulas tentang apa yang akan terjadi dalam 50 tahun sampai akhir abad ini dari sisi perkembangan teknologi dan ekonomi tetapi ia juga masuk ke bidang-bidang terkait kondisi bumi dan alam semesta.

Dalam Bab 26 dari bukunya, ia menyajikan prediksi para ahli lingkungan bahwa pada tahun  2040 yang artinya hanya 23 tahun lagi dari sekarang, bencana banjir yang sangat besar akan terjadi di daerah pantai India, Cina dan beberapa negara Asia lainnya. Bencana itu adalah akibat naiknya air laut secara permanen dan konsisten karena mencairnya Gletser Kutub Selatan yang disebabkan oleh pemanasan global sebagai dampak dari polusi udara. Tentang kenaikan air laut akibat mencairnya gletser itu sejak akhir Desember sampai minggu ini masih terus ditayangkan saluran TV BBC dan secara mengejutkan juga oleh saluran HBO. Ditunjukkan bagaimana air laut sudah meresap jauh ke daratan dan menggenangi rumah-rumah penduduk di Negara Bagian Florida, USA. Diprediksi juga bahwa saat itu akan terjadi kekurangan bahan makanan dan puluhan juta orang terancam bencana kelaparan hebat.


BAGAIMANA DENGAN KONDISI INDONESIA?
Silahkan baca link di bawah ini.

Pemanasan global – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global

Climate Change in Indonesia
http://www.global-greenhouse-warming.com/climate-change-in-Indonesia.html

Saya merenung tentang kerusakan yang sudah mulai terjadi di negeri kita tercinta ini. Sebuah contoh kecil adalah apa yang terjadi di desa saya sendiri di Banten Tengah. Sekitar 60 tahun lalu, saat masih saya masih bersekolah di SD dan tinggal di desa tersebut kami selalu mandi di mata air di lembah yang jaraknya sekitar 100 m dari rumah keluarga kami. Air dari mata air itu dan banyak mata air lainnya mengalir ke sebuah bendung yang dibangun oleh kakek buyut Ibu kami bersama kerabat dan warga yang menjadi pionir pembangunan desa itu sekitar 250 thnan lalu. Air itu dipakai untuk mengairi sawah milik mereka yang berada di lembah di bawah bendung itu. Tetapi, sejak 25 tahun lalu semua mata air itu lenyap. Bendungpun hanya  menampung air hujan saat musimnya tiba. Bagian sisi bendung sudah penuh endapan tanah yang terbawa oleh air hujan yang tidak lagi tertahan oleh akar pohon-pohon di bukit-bukit sekitarnya yang sudah berganti menjadi ladang dan kebun kelapa. Bagian sisi bendung itu lalu malah dijadikan sawah oleh beberapa warga dan menjadi sumber sengketa tentang kepemilikannya. Saat ini, bila musim kemarau tiba, semua sumur warga menjadi kering. Alhamdulillah, sebuah yayasan amal bhakti sosial milik keluarga kami membiayai pengeboran sumur sedalam 50 meter di halaman mesjid desa dan sekaligus membelikan pompa penyedot berdaya besar sehingga seluruh warga yang dekat ke mesjid itu bisa memanfaatkan airnya. Entah sampai kapan sumur dalam itu masih akan tetap berisi air. Tidak ada yang tahu.

Baca juga:  Postur dan "Bahasa" Tubuh Dalam Interaksi dan Komunikasi Lintas Budaya

Saya tidak paham, mengapa  warga desa kami sekarang, yang rata-rata punya pendidikan yang lebih baik, tidak punya kearifan seperti kakek moyang mereka yang rata-rata hanya belajar agama dan mengaji? Mengapa mereka sekarang begitu serakah dan tidak peduli dengan pelestarian alam? Tapi hal itu kelihatannya memang telah menjadi sebuah gejala nasional.

PERISTIWA-PERISTIWA LAIN
Ternyata selama tahun 2016, bencana banjir bandang yang menggelontorkan bukan hanya air tapi juga lumpur tanah merah dari gunung telah menghantam wilayah daerah wisata pantai Carita di Selat Sunda, Propinsi Banten juga. Kemudian terjadi juga di Garut, Jawa Barat yang menghancurkan ratusan rumah dan beberapa bangunan sekolah. Lalu menyusul di beberapa daerah di luar Jawa yang saya tidak sempat catat satu persatu.

BNPB Sebut Penyebab Banjir Bandang di Garut karena Buruknya Sungai Cimanuk
http://news.detik.com/read/2016/09/21/180111/3303469/10/bnpb-sebut-penyebab-banjir-bandang-di-garut-karena-buruknya-sungai-cimanuk

Saya merasa bahwa perhatian para elit politik, tokoh agama, dan pejabat negara terhadap upaya pelestarian lingkungan masih sebatas retorika. Yang ramai justru  penggunaan istlah “green” oleh perusahaan super market dan property untuk tujuan iklan dan promosi.

Sebagai penutup, agar lebih hangat, saya akan tutup catatan ini dengan sebuah cerita yang saya terima dari seorang sahabat saya, Didik Kuntadi sekitar 5 tahun lalu. Begini bunyi ceritanya.

“Suatu hari, berpuluh atau beratus juta tahun yang lalu,  Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakanNya. Para Malaikat pun bertanya:
“Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?”
“Lihatlah, planet yang baru saja Aku ciptakan yang kunamai Bumi,”  Tuhan menjawab sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon di bagian selatan dari Benua Amerika.

“Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini segalanya akan terjadi secara seimbang”.

Baca juga:  Beberapa Pertanyaan Menggelitik Terkait Loyalitas Pekerja “Kelas Bawah”

Lalu Tuhan menjelaskan.
“Di Eropa sebelah utara, aku ciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan misalnya Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu ada hawa dingin yang menusuk tulang. Di Eropa sebelah selatan, akan ada masyarakat yang agak miskin seperti Spanyol dan Partugal, tetapi banyak sinar matahari sehingga hangat dengan pemandangan yang eksotis di Selat Gibraltar”.
Tiba tiba para Malaikat menunjuk pada sebuah kepulauan sambil berseru:
“O Tuhan, daerah apakah itu?” Indah sekali” seru mereka.
“O, itu” kata Tuhan,
“Itulah Indonesia. Sebuah negara yang sangat kaya dan sangat cantik. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Ku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan juga hujan deras. Ku ciptakan penduduk yang ramah, suka saling menolong dan berkebudayaan aneka ragam. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana, bersahaja dan mencintai seni.”
Dengan heran, malaikat protes. “Tadi Engkau katakan, setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Tapi kok Indonesia baik-baik semua. Dimana keseimbangannya?”
Tuhan menjawab dengan kalem;

“Tunggulah sampai orang-orang serakah yang tidak memikirkan masa depan anak cucu mereka berhasil menjadi
Pengusaha, Anggota DPR/ DPRD, Pejabat Pemerintah, Kepala Daerah, Penegak Hukum, Hakim (termasuk Hakim Konsitusi)”

Semoga Tuhan mengampuni kita semua! Amiiin.