Selama ini para psikolog dan pakar manajemen sumberdaya manusia lebih banyak menekankan pentingnya “kecerdasan emosional” bagi mereka yang ingin punya karir gemilang. Arti kecerdasan emosional dalam bahasa awam adalah  “kemampuan mengendalikan emosi”. Tetapi beberapa  peristiwa dibawah ini yang mungkin anda juga pernah  temukan atau alami menunjukan bahwa ada kecerdasan lain yang tidak kalah pentingnya. Peristiwa peristiwa tersebut adalah beberapa contoh dari “insiden” yang dapat terjadi dalam interaksi dan komunikasi lintas budaya. Insiden insiden itu menunjukan bahwa pengetahuan yang cukup dalam tentang karakteristik dan “nilai-nilai” budaya sendiri dan budaya bangsa2 atau suku2 yang menjadi “lawan” kita ber-interaksi sangat diperlukan. Pengetahuan dan kepekaan tersebut mutlak sangat diperlukan terutama untuk melakukan interaksi bisnis lintas bangsa dan budaya  dalam era globalisasi yang sudah tidak bisa di hambat lagi.

Dibawah ini adalah beberapa contoh “Insiden” yang bersumber pada perbedaan budaya.

1. Sekitar 45 tahun lalu, saat saya mengikuti program  MBA di Melbourne Business Schoool, Australia, saya dan group studi saya melakukan diskusi di apartemen seorang anggota group. Karena melihat bahwa apartemen yang ditinggalunya bagus secara polos saya berkata kepadanya: “Apartemen anda ini bagus sekali, boleh saya tahu berapa sewanya per bulan?”

Teman tersebut tertegun, terlihat serba kikuk dan memandang muka saya. Seorang teman lain yang sampai sekarang jadi sahabat saya segera menyelak sambil tertawa: “Sofjan (nama panggilan saya), dalam budaya Australia dan bangsa “barat” umumnya, adalah dianggap tidak sopan untuk  bertanya tentang hal seperti itu. Itu dianggap sebagai hal hal bersifat pribadi. Dalam budaya anda mungkin berbeda.”  Mendengar penjelasan teman tersebut saya segera meminta maaf dan semuanya tertawa. Sampai saat ini saya selalu ingat tentang hal itu.

Baca juga:  Jenis Anggota Group Media Sosial, WA, Telegram, FB, dll.

Tetapi lucunya, bila wanita yang bangsa “barat” bertemu wanita lain sebangsanya, walaupun mereka baru berkenalan, dan melihat wanita itu pakai baju yang dipikirnya bagus, akan memuji secara terbuka dan bertanya di toko mana dibelinya dan berapa harganya. Semula, istri saya selalu serba salah tiap kali ada wanita “barat” bertanya seperti itu karena wanita Indonesia, kecuali famili atau sahabat, tidak akan ada yang  bertanya seperti itu. Biasanya mereka hanya berbisik bisik dengan teman2 akrabnya sendiri.

Tetapi sekarang ini, yaitu 45 tahun kemudian, istri saya sering berceritera bahwa bila ia sedang jalan jalan di mall dekat rumah dan melihat seorang ibu seusianya yang memakai baju yang menarik ia langsung menegurnya dan  berkenalan. Ia menanyakan pada ibu itu tentang baju yang dikenakannya yang dengan senang hati menjawab pertanyaannya dan mereka kemudian bercakap cakap dengan akrab. Jaman rupanya memang sudah mulai berubah.

2. Saat saya bekerja dilingkungan perusahaan multi nasional, tentunya saya sering harus makan siang atau makan malam bersama sama rekan kerja yang bangsa asing. Tiap kali saya berada di meja makan bersama mereka dan merasa bahwa dihidung saya ada ingus saya selalu pergi dulu ke luar ruangan atau ke toilet untuk membuangnya. Mereka kemudian memberitahu saya bahwa saya tidak perlu meninggalkan meja makan. Cukup buang saja ingus itu di kertas tisu. Saya memberitahu mereka bahwa menurut tata krama  Indonesia, membuang ingus dihadapan orang banyak dianggap sebagai perbuatan yang tidak sopan. Tetapi untuk bangsa “barat”, membuang ingus ke tisu atau sapu tangan saat sedang makan bersama di satu meja rupanya tidak dianggap tidak sopan. Akhirnya, bila sedang bersama mereka saya ikuti saja tata krama mereka. Tetapi suatu hal yang harus diketahui bahwa kebiasaan “menghirup” ingus, bagi mereka tetap dianggap sebagai tidakan menjijikan dan tidak sopan.

Baca juga:  Bangsa Berbudaya (1)

3. Tahun 2014  lalu saya mengantar seorang sahabat yang pebisnis Australia berkunjung ke Uiversitas Negeri Lampung di kota Bandar Lampung untuk sebuah urusan sosial yaitu program pertukaran pelajar. Para pria yang hadir dalsm pertemuan termasuk Rektor dan sejumlah pejabat senior lainnys semua  berpakaian rapi, mengenakan kemeja dan berdasi. Untuk menghormati yang punya rumah, saya dan sahabat saya juga memakai jas walapun tanpa dasi. Tetapi dalam pertemuan tsb ada tamu lain yang seorang Professor dari Universitas Monash, Australia, yang juga bertamu untuk urusan yang berbeda. Dalam sambutannya sang professor beberapa kali menyebut pentingnya sensitivitas budaya bagi kedua bangsa yaitu Australia dan Indonesia. Tetapi yang membyat saya dan sahabat saya yang pebisnis Australia itu saling melirik dan geleng kepala adalah karena sang profesor Australia itu hanya bercelana jean, berkaus oblong warna merah dan bersepatu olahraga, seperti layaknya turis biasa.

INTERAKSI BUDAYA ANTAR SUKU.

Bagaimana dengan insiden budaya lintas suku? Apakah tidak pernah terjadi. 8Sekitar dua belas tahun lalu, saya mengunjungi desa tempat pembuatan rumah kayu di luar kota Palembang arah menuju Banyuayu. Pada saat tiba disana pemilik menyambut kami dan bertanya kepada saya: “KAMU datang dari Jakarta?” Tentu saja saya agak tersentak karena selama puluhan tahun sejak saya mencapai tingkat Direktur perusahaan, tidak ada orang yang pernah berani memanggil saya “kamu”. Untung saya tetap bisa mengendalikan diri dan bersikap biasa. Dijalan pulang, adik saya yang oernah tinggal di Palembang selama belasan tahun menjelaskan bhw untuk daerah itu, kata “kamu” adalah umum digunakan untuk siapa saja dan tidak dianggap tidak sopan. Saya baru sadar bahwa selama ini saya fokus pd perbedaan budaya antar bangsa2 padahal antar suku pun banyak perbedaan yg selama ini belum diberi perhatian.

Baca juga:  Postur dan "Bahasa" Tubuh Dalam Interaksi dan Komunikasi Lintas Budaya

Masih banyak sekali contoh2 lain. Tiap  suku dan bangsa punya definisi dan kriteria sendiri tentang sopan dan tidak sopan dalam tata krama pergaulan mereka. Oleh karena itu, tiap kali saya mengunjungi sebuah daerah atau negara yang saya belum sempat mempelajari budayanya, saya biasakan untuk bertanya kepada  tuan rumah atau pemandu, apa yang boleh, tidak boleh, bagus untuk dilakukan dan sebaiknya tidak dilakukan.  Hal itu sangat dihargai oleh tuan rumah dan mereka pun akan melakukan hal yang sama.

Tapi ada sebuah perilaku yang sudah disepakati sebagai perbuaran tidak sopan oleh hampir semua bangsa yang sudah maju (terdidik). Perilaku itu adalah  selalu mencek pesan di  smartphone, HP atau Tablet kita padahal kita sedang  bersama tamu, rekan, relasi  atau keluarga.

Selamat Ber-aktivitas