Kata “kedekatan” & “koneksi” sudah sangat familiar di telinga kita. Banyaknya kecaman yang di lontarkan untuk dua buah kata itu adalah karena kaitannya dengan budaya “KKN” (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang masih kuat  di negeri kita. Memang benar, ditengah gencarnya kecaman dan penindakan, tetap saja  banyak pebisnis, pencari kerja dan masyarakat umum yang masih memberi nilai tinggi pada “koneksi”. Mereka masih yakin bahwa “koneksi” adalah faktor “kunci” untuk memperoleh sukses.   Apakah itu untuk dapat proyek atau order dari, atau untuk diterima sebagai pegawai atau karyawan dan mendapat jabatan pada instansi pemerintah dan badan usaha, termasuk di  BUMN.

Suatu hal yang menarik adalah bahwa para pakar budaya yang salah satunya DR Elashmawi, pakar Interaksi Lintas Budaya A.S turunan Mesir yang saya sempat bertemu dalam sebuah konferensi di Hongkong pada tahun 1996 lalu menyatakan bahwa hubungan (baca “koneksi”) memang menduduki peringkat 1(satu) dalam tata (sistem) nilai beberapa bangsa Asia termasuk Indonesia. Tata nilai bangsa adalah urutan nilai2 berdasarkan derajatnya yang setelah melalui proses yang lama disepakati oleh sebuah suku atau bangsa untuk dijadikan panduan mereka dalam menjalani hidup walaupun tanpa kesepakatan tertulis, deklarasi atau  semacamnya.

Para pebisnis Cina, termasuk Cina perantauan, sudah dikenal sangat piawai dalam membangun jajaring sosial yang dijadikan sebagai  sumber kemajuan bisnis mereka. Banyak buku tentang Guang Xie alias Kongsi dalam bahasa Indonesia yang telah dipublikasikan. Dalam era globalisasi ini membangun “koneksi” melalui berbagai  “jejaring” sosial atau profesi saat ini justru semakin berkembang dan diakui manfaatnya. Lihatlah jejaring seperti Face Book, Linkedin,  dan lain lain yang punya pengikut puluhan juta orang.

Jejaring yang sangat luas diakui oleh para profesional sebagai salah satu faktor kunci untuk sukses walaupun kunci kunci utama adalah  tetap kompetensi dan integritas. Seorang yang kompeten dan punya integritas tapi tidak suka “gaul” atau “kuper” akan sulit mendapat tawaran bisnis atau pekerjaan. Untuk membangun jejaring, orang harus aktif bergaul. Bisa dalam organisasi profesi, olah raga, hobby atau jejaring sosial. Tentu saja diperlukan pengorbanan, minimal dalam bentuk waktu dan energi. Sekarang sudah bukan masanya cari koneksi atas dasar kekerabatan, suku, dll.

Baca juga:  "Al Harokah, Barokah"

Be a true professional. Build a network!

Jakarta  Januari 2017